Setelah melaksanakan Seminar Proposal Tugas Akhir dalam Program Fast-Track Sarjana-Magister bersama Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara Institut Teknologi Bandung (FTMD ITB), mahasiswa Program Studi Teknik Mesin Institut Teknologi Sumatera (Itera), Muhammad Rusyda Hafizh Ghifari, membagikan pengalamannya selama mengikuti program yang telah berjalan sejak Februari 2026 tersebut.
Menurut Rusyda, aktivitas akademik yang dijalani di ITB pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan perkuliahan di Itera. Namun, sebagai mahasiswa yang sedang menyelesaikan tugas akhir, ia memiliki intensitas kegiatan riset yang cukup tinggi di laboratorium.
“Kegiatannya tidak terlalu berbeda jauh dengan di Itera, seperti mengikuti perkuliahan pada umumnya. Hanya saja karena saya juga sedang mengerjakan tugas akhir, saya sering datang ke laboratorium untuk penelitian. Pada akhir pekan, akses laboratorium tetap dibuka sehingga mendukung proses riset yang sedang saya jalani,” ujarnya.
Dalam menjalankan penelitian dan studi di program tersebut, Rusyda mendapatkan bimbingan dari dua dosen pembimbing yang berasal dari kedua perguruan tinggi. Dari ITB, ia dibimbing oleh Dr.Eng. Ir. Firman Bagja Juangsa, S.T., M.Eng., sedangkan dari Itera dibimbing oleh Dr. Rico Aditia Prahmana, S.T., M.Sc.
Rusyda menjelaskan bahwa penelitian tugas akhirnya berfokus pada simulasi Computational Fluid Dynamics (CFD) untuk proses pembakaran batu bara halus (pulverized coal combustion) dengan skema co-firing biomassa. Penelitian tersebut bertujuan mengkaji potensi pemanfaatan biomassa sebagai bahan bakar campuran pada pembangkit listrik tenaga uap (PLTU).
Topik ini membahas penambahan biomassa pada boiler PLTU untuk menurunkan kadar emisi hasil pembakaran sekaligus mengurangi penggunaan batu bara. Melalui simulasi CFD, karakteristik pembakaran dapat dianalisis secara lebih mendalam sehingga dapat menjadi dasar dalam pengembangan teknologi energi yang lebih ramah lingkungan.
Lebih lanjut, Rusyda mengungkapkan bahwa program Fast-Track memberikan banyak manfaat, baik dari sisi akademik maupun pengembangan diri. Lingkungan akademik yang kompetitif mendorongnya untuk meningkatkan kemampuan adaptasi, manajemen waktu, dan kedisiplinan.
“Manfaat yang paling saya rasakan adalah meningkatnya kemampuan adaptasi dan kedisiplinan karena berada di lingkungan akademik yang ketat dan kompetitif. Selain itu, akses terhadap sumber-sumber akademik di sini juga lebih luas. Program ini juga memungkinkan saya memperluas relasi dan jejaring akademik,” tuturnya.
Di akhir wawancara, Rusyda turut memberikan motivasi kepada mahasiswa Itera yang tertarik mengikuti Program Fast-Track Sarjana-Magister di masa mendatang.
Berada di lingkungan akademik yang ketat justru memacu kita untuk beradaptasi dan berkembang jauh lebih cepat dari yang kita bayangkan. Program ini memberikan wadah yang tepat untuk menjaga momentum tersebut. “Bagi teman-teman yang haus akan kedalaman ilmu dan ingin memiliki daya saing global, mengambil langkah ekstra melalui program ini adalah salah satu keputusan terbaik yang bisa dibuat,” pesannya.
Program Fast-Track Sarjana-Magister ITB-Itera merupakan salah satu bentuk kolaborasi strategis antar perguruan tinggi yang bertujuan mempercepat penyelesaian studi sekaligus meningkatkan kualitas lulusan melalui pengalaman akademik dan riset di lingkungan yang lebih luas. Melalui program ini, mahasiswa tidak hanya memperoleh percepatan jenjang pendidikan, tetapi juga kesempatan untuk mengembangkan kompetensi riset, memperluas jejaring profesional, dan meningkatkan kesiapan menghadapi tantangan global di bidang teknik dan teknologi.
